
Istriku tersayang,
Anak-anaklah yang mengajarkan pada kita bagaimana bertindak sebagai orang dewasa dan bertanggung jawab sebagai orang tua. Mereka berkata kepada kita seolah-olah Tuhanlah yang berkata kepada kita melalui anak-anak kita.
Sebagaimana pengantin yang berikrar “Untuk mencintai dan menjaga yang tercinta, dalam keadaan baik ataupun buruk….sampai maut memisahkan”. Adalah bukan hanya janji antara suami dan istri tetapi juga janji untuk anak-anak kita. Baik Bible maupun Budha mengatakan ”dari dua, mereka dipersatukan.” ”Untuk melindungi anak-anak dan terimalah mereka dalam hidupmu”.
Aku tercenung memahami ketika Katharine hendak menangis: “Aku ingin mommy dan daddy” apa yang dia katakan sebenarnya adalah bahwa dia ingin mommy dan daddynya bersama-sama dalam tanggung jawab, menjadi orang tua yang mencintai, dan hidup berdampingan. Dialah yang membuat hal tersebut menjadi nampak terang tatkala pada suatu Minggu saat bergegas ke kantor dia bertanya padamu, “kengapa daddy tidak tidur di rumah” Hal ini kejutan yang luar biasa bagiku sebagaimana hal itu juga terjadi padamu.
Brian sering mengatakan pada kami, namun lewat bisikan, “teramat lirih”, tak terdengar orang lain, dengan raut wajahnya yang tertekan. Dia lebih sensitif daripada Katharine dan lalu kutatap matanya, serasa aku melihat diriku sendiri.
Aku bertanggung jawab sepenuhnya atas kecanduan alkoholku dan kebrutalanku. Tingkah polah seperti itulah yang mengantarkan hidup kita berantakan. Ada juga periode waktu yang lama dalam kehikmatan yang memberi kesempatan bagiku untuk menunjukkan tanggung jawab dan mengajak serta putraku camping dan memainkan baseball. Juga, waktunya untuk mengajak putriku jalan-jalan di taman, naik komidi putar, dan membelikan dia pinwheel!
Bahkan walaupun kamu tak pernah mengungkapkannya untukku, hal itu juga memberi wejangan padamu bahwa kamu berkeinginan untuk melanjutkan ikrar suci itu. Seandainya kamu telah berbicara lebih jelas, aku mungkin telah dapat memberikan respon.
Ini semua mengingatkan aku pada puisi-puisi tentang anak-anak kita yang telah kutulis. Terdapat satu puisi yang sangat pilu, sampai-sampai Brian enggan mendengarkannya.
“Sedang aku berlibur ke danau dengan anakku. Tenda telah dilipat dan disimpan di dalam mobil. Air danau begitu tenang saat akan menghadapi serangan badai musim dingin dan area renang pun ditutup. Kijang turun gunung dan masuk ke padang bumi perkemahan. Libur tlah usai. Dan ini akan menjadi ‘camping’ kami yang terakhir kali di tahun ini.
Dalam perjalanan kembali dari danau, kami berhenti di toko madu untuk membeli sebotol madu bunga hutan. Lalu ke ladang untuk memetik beberapa gerompol anggur merah muda. Kami berhenti di dekat sungai yang melandai di Valley. Airnya penuh dan mengalir deras dari muara danau di atasnya. Daerahnya begitu segar dengan tanaman dan nampak hijau dengan tanaman yang siap panen. Mengingatkanku pada musim semi beberapa tahun silam.
Dalam perjalanan pulang, aku berpikir tentang ‘camping’ musim panas tahun ini. Betapa putraku telah melawan ketakutannya akan kano dan air. Dia telah belajar bagaimana mengendarai sepedanya dan bagaimana membuat gula-gula di atas tungku pemanas. Aku berpikir tentang semua teman-teman barunya dan tentang percakapan panjang yang telah kita lakukan. Antara aku dan dia.
Saat hampir sampai di rumah, aku memandang pada anakku dan menatap raut kesedihan di wajahnya. Dia dalam hal ini mengetahui bahwa ini adalah akhir liburan musim panas yang tak kan pernah terulang kembali.
Aku berhenti dan mendengar. Untuk meresapi suara dari musim panas yang berakhir. Hanya untuk mengukur apakah suara musim panas yang kuhabiskan dengan putraku lebih nyaring dari pada suara di pikiranku.”
Puisi ini adalah sebuah metafora, bukan teruntuk musim panas yang kuhabiskan bersama putraku, dan bukan pula harapan bagi musim panas yang akan datang. Tetapi untuk keluarga yang baru saja mengakhiri sebuah periode dan mereka-reka masa depan.
Kita harus berbenah untuk musim panas yang akan datang demi anak-anak kita. Aku akan beranjak menuju standar kehidupan yang lebih bersahaja bagi dirimu dan anak-anak, bukan hanya berbenah untuk musim panas mendatang. Hal itu hanya akan menggiring pada perpecahan keluarga dan mengabaikan ikrar yang telah terucap. Anak-anak akan tahu hal itu seiring mereka bertumbuh dewasa. Mereka akan meniru bahwa mengabaikan keluarga lebih dapat diterima ketimbang memperhatikannya.
Pilihan ini yang seharusnya kamu buat, sepenuhnya demi dirimu sendiri. Mengorbankan diri sendiri sebagai martir bukanlah apa yang Tuhan amanatkan pada kita di muka bumi untuk dilaksanakan, apakah itu demi keluarga kita atau anak-anak.
Aku sedang mengambil langkah yang kutahu perlu untuk memperbaiki diriku sendiri. Aku juga memutuskan untuk memahami dengan baik akan kebutuhan dan kemarahanmu. Jika kita tidak mengambil langkah untuk lebih memahami satu sama lain, kita hanya berputar-putar untuk mengulang gonjang-ganjing perkawinan kita di masa lalu ke depannya.
Aku berdoa agar kamu sudi untuk mempertimbangkan rujuk dan menetapi lagi ikrar perkawinan kita, yang tak hanya demi kita berdua, tetapi lebih utama bagi anak-anak kita.
Hingga maut memisahkan.
Salam,
*Surat ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaa nama, peristiwa, dan tempat hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Sumber gambar: http://wedd-ing.com/wp-content/uploads/2011/08/divorce-papers.jpg