Hujan mulai mereda kiranya. Suara tetesan air dari langit terdengar pelan. Jarum jam lantang mendetak.
Di luar rumah, terdengar percakapan yang sedikit riuh. Telingaku menguping penuh rasa penasaran. Aku bangkit dari ranjang menuju ruang tamu, memperpendek jarak dengan sumber suara. Dari percakapan itu aku mengetahui ada banjir di beberapa wilayah Jogja.
Serta merta kuraih notebook dan dan kuaktifkan modem mencari tahu kebenaran kabar yang barusan aku dengar. Ternyata memang benar adanya. Hujan deras yang mengguyur sejak setengah lima sore tadi telah menenggelamkan euforia yang masih tersisa akan perayaan malam pergantian tahun kemarin malam. Tiga sungai besar yang membelah kota Jogja tak mampu menahan jutaan bahkan milyaran, mungkin, liter air yang dikirim hujan tadi. Meluap hingga pemukiman warga. Menurut berita yang kubaca, warga yang menjadi korban luapan sungai tersebut sudah dievakuasi.
Luar biasa deras hujan yang mengguyur Jogja kali ini. Hujan yang membuat awal tahun yang tak bisa dilupakan karena derita yang sudah harus ditanggung. Tentu saja tidak ada yang berharap terjadi malapetaka seperti ini kemarin malam, saat orang-orang berlomba-lomba memanjatkan harapan positif.
Aku tertegun sejenak. Tak jelas apa yang semestinya kupikirkan. Perasaanku juga mengambang. Ada memang rasa empati yang mendalam membuncah dari dalam lubuk sanubariku. Namun aku bimbang, akan kuapakan dan bagaimanakan rasa empati yang begitu menggelora saat ini. Rasanya sulit untuk aku nalar jika aku turun tangan langsung bahu membahu dengan para relawan dan tim SAR sebagaimana yang diberitakan. Atau sekedar menata alas tidur mereka yang sekarang jadi korban. Sepintas ini adalah cara yang paling heroik bila aku menafikan arti sebuah pertimbangan yang matang.
Aku membanting punggung ke sandaran pelan-pelan. Aku mendesah sesaat. Menghempaskan kegalauan dari mulutku dengan nafas yang ternyata sedikit berbau. Sementara otakku berandai-andai ini dan itu.
Sebenarnya aku agak frustasi juga semenjak tadi. Malam ini sedianya ingin kujadikan sebagai malam kebangkitanku kembali dalam bidang kepenulisan. Awal tahun. Tentu menjadi titik mula yang bagus. Ada sugesti, seakan-akan ada persediaan energi baru yang berlimpah jumlahnya. Masalahnya, sedari sebelum aku menyaksikan pertandingan Manchester city kontra Sunderland sampai dengan aku mematikan televisi dengan perasaan dongkol lantaran citizens kalah tragis 0-1, tak juga nyangkut satu ide pun. Padahal, sementara mataku memelototi jalannya pertandingan, pikiran dan perasaanku sudah kuatur sedemikian rupa menjadi perangkap bagi ide.
Kalau saja hujan masih deras mungkin aku sudah lelap. Beruntung hujan bersedia juga reda. Bahkan kupikir hujan akan tumpah semalaman ini.
Syukurlah, berarti kecemasan para korban banjir juga akan mereda. Ini juga menjadi isyarat akan leganya diriku karena berangsur-angsur bebas dari rasa bersalah. Sungguh tak mampu kubayangkan bagaimana bila hujan terus-terusan mengguyur. Rasa empati yang tak terkendali akan berhadapan dengan pertimbangan yang berat meninggalkan istriku sendirian mendiamkan tangis anakku ditengah hujan deras. Panggilan sebagian nurani di waktu keduanya mengharuskan keberadaanku di sisi mereka. Aku paham, langkah manapun yang harus kuambil tidak akan benar-benar menjadi solusi yang memuaskan hatiku. Hanya kebimbangan dan perasaan bersalah karena mengambil salah satu langkah dan tak mengambil langkah yang lain.
Mungkin terkesan egois. Aku tak mau ambil hati bila ada yang menduga demikian. Aku masih punya doa, yang terentang jauh membelah angkasa tertuju pada yang Maha Daya Maha Kuasa.
Aku melongok keluar jendela, merekam dalam-dalam diam udara, menjulurkan lengan dalam kegelapan, memastikan tak ada rintik yang masih tersisa. Hujan telah benar-benar reda. Malam lengang. Jarum jam mendetak jauh lebih lantang. Dan malaikat kecil kami sudah pulas dengan posisi telentang.
